aku teringat akan sebuah kisah masa kecilku. oh ya, aku belum memperkenalkan diriku. aku biasa dipanggil oleh orang - orang di sekitarku dengan nama yusuf. jadi kalian cukup mengenal nama itu saja.
kembali ke masa kecilku
dulu aku sangat lugu, apa - apa harus dilakukan mama. mama lah yang sering sibuk dengan kegiatanku, sementara aku hanya diam dengan lugunya. kisahku berubah ketika harus pindah sekolah. aku melihat sebuah perempuan yang sanggup mendebarkan dada ini. padahal saat itu aku masih lugu, ya kelas 4 SD mungkin masih dianggap anak kecil yang lugu.
aku mulai memperhatikan penampilanku. rambut klimis disisir ke kanan, tidak lagi memakai bedak, memakai parfum mama yang wanginya sangat kewanitaan. dengan langkah gagah aku memasuki ruang kelas, mencari dimana dia biasa duduk. biasanya dia duduk di deretan kedua. jika aku tidak melihat dia, aku bisa meyakinkan hati ini dengan melihat tasnya. bahwa hari ini dia masuk
hari demi hari aku lewati dengan melihat wajahnya. terkadang ketika aku melihat wajahnya dia menyambutku dengan senyuman kecilnya. betapa bahagianya aku saat itu.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana / seperti burung gereja / yang selalu terbang di halaman sekolahku / dan aku / ingin terbang bebas seperti burung gereja itu
tidak ingin badan ini sakit. aku selalu berdoa kepada Tuhan. tidak bertemu satu dia satu hari pun, rasanya dada ini menjadi sempit. susah bernafas, pandangan menjadi kabur. setelah aku sembuh dan diperbolehkan ke sekolah. aku segera berlari menuju sekolah. membuka pintu dan dengan dada berdebar - debar aku melihatmu.
"yusuf, kamu kemana saja ?"
kata - kata itu bagai sebuah obat candu yang membuatku pusing. mungkin kalo dijadikan sinetron. background tempatku mungkin sudah menjadi sebuah pegunungan yang banyak bunga bermekaran disertai burung - burung yang terbang kesana kemari.
"ehh.. aku gak kemana - mana. hanya di rumah"
hanya itu kata yang terucap, dan aku langsung berlalu ke meja yang biasa aku tempati. hari itu aku selalu membayangkan kalimat pertanyaan darinya. aku tidak tahu harus bagaimana. nampaknya aku akan kembali sakit.
sampai aku kelas 6 SD pun aku masih memiliki perasaan yang sama terhadapmu.
indah sekali masa - masa itu. jatuh cinta yang terlalu cepat. ketika aku sedang lugu - lugunya. aku pun tidak tahu. apakah itu layak dijadikan sebuah kisah cinta
aku ingin mencintaimu dengan sederhana / seperti melipat kertas demi kertas / menjadi perahu kertas / dan menaruhnya di aliran air hujan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar