Jumat, 17 September 2010

dendam

"vira, aku akan melamarmu" kataku pada vira
"oh, ya ? kapan ?" jawab vira penuh kebahagiaan
"setelah aku memperkenalkanmu kepada nenekku. dia ingin bertemu dan berbagi cerita denganmu. tentang keluargaku, hidupnya, dan dia juga ingin tau cerita darimu. nenekku berada di kampung halamanku, Pamekasan" kataku penuh dengan campur aduk perasaan.
"kapan kita kesana ?" jawab vira
"besok, jika kau siap." sergahku
"Oke. jemput aku jam 12 siang ya."

. . .

siang itu di desa pamaroh, Thalib terlihat kesal. sang jagoan desa tersebut membanting, menendang apapun yang ada disekitarnya. sementara penduduk tidak bisa berbuat apa - apa, mereka hanya diam sambil sesekali mengintip dari pintu dan jendela rumah mereka. rasa takut membuat mereka seperti pengecut yang hanya bisa berdiam diri dirumahnya.
"pengecut kalian semua. apakah kalian tidak bisa melawan si Dayat bajingan itu ? pengecut kalian semua." teriak Thalib nyaring dan penuh amarah
"pengecut kalian semua, kalian semua tega. membiarkan istriku dibawa oleh Dayat. kalian semua pengecut. bangsat. anjing kalian semua!!" umpat Thalib
tidak ada yang keluar dari rumah kayu berlapis daun - daun kering itu. mereka tidak bisa apa - apa, ketika Dayat sang juragan dan beberapa tukang pukulnya datang untuk membalaskan dendam pada Thalib. sebenarnya mereka punya cukup tenaga, tapi rasa takut telah membunuh tenaga itu. mereka tidak mau seperti Maulana, sekarang nasibnya semua tangan dan kakinya patah. istrinya diperkosa oleh tukang pukul Dayat. rasa takut itu yang membuat mereka tidak berani.

. . .

"anjing kalian semua. kalian takut terhadap orang yang tidak percaya Tuhan itu ? kalian takut ? bajingan kalian semua." pekik Thalib meratapi keadaannya sekarang
Jamil, sahabat Thalib mendekatinya. namun apa yang dijelaskan oleh Jamil tidak bisa menenangkan Thalib. malah dia diberi pukulan telak di perutnya.

sementara orang - orang kampung Pamaroh pun hanya sedikit yang keluar setelah Jamil dipukul. diam, berbisik - bisik, dan mengintip dari pintu rumah mereka masing - masing, yang bisa mereka lakukan. takut telah membungkus tenaga mereka untuk melangkah menenangkan Thalib.

. . .

Dayat dan 13 tukang pukulnya hari ini mendatangi desa Pamaroh, seperti biasa mereka hanya bersenang - senang, menyewa pelacur desa, dan membuat onar. terkadang mereka menidas warga di desa tersebut untuk meminta uang hasil keringat mereka. salah seorang kyai di desa tersebut berungkali mengingatkan Dayat, nampaknya tidak berhasil.
"pergilah kau, sejauh mungkin. pergilah bersama Tuhanmu. aku tidak percaya Tuhan. hahahaha." umpat Dayat terhadap kyai saat dia sedang mencumbui wanita di depan umum.
Dayat memang terkenal tidak percaya Tuhan, seringkali dia mengganggu warga yang sedang beribadah. sambil berteriak "aku tidak percaya Tuhan, coba datangkan Tuhan kalian sekarang!" Dia adalah keturunan saudagar kaya, menurut desas - desus dia membunuh ayaknya dan kakaknya agar dia mendapat warisan nan berlimpah. sehingga dia bisa menyewa tukang pukul dan menjadi salah satu orang yang paling ditakuti.

. . .

siang itu, Dayat datang kerumah Thalib. memaksa Thalib menyerahkan uang. tapi Thalib orang yang cukup berani. dia mengambil celurit dan menantang Dayat beserta tukang pukulnya. "hai kalian pengecut! jangan sekali - kali menginjakkan kaki kalian di bumi kelahiranku!"

di desa tersebut memang Thalib lah yang dikenal sebagai pemberani, dia adalah anak keturunan jagoan kampung. kekar dan berotot ciri - ciri fisik yang menggambarkan bahwa dia memang keturunan jagoan kampung.

"hari ini kau kumaafkan Thalib" seru Dayat dan mengajak tukang pukulnya pulang.

sejak saat itu, Dayat menaruh dendam pada Thalib. dia berjanji pada dirinya jika tidak dapat membunuh Thalib, dia akan membunuh semua istri - istrinya.

. . .

siang ini Dayat datang kembali ke desa Pamaroh untuk membalaskan dendamnya. dia langsung menuju rumah Thalib, mendobrak, menghancurkan perabotan rumahnya, dan menyuruh anak buahnya mengumpulkan kayu bakar. sepertinya dia berniat membakar rumahnya yang kala itu Thalib sedang pergi ke Sumenep untuk menjual padi hasil panennya.

Dayat tidak tahu kalau di dalam rumah ada Senja, istri Thalib. ketika api sudah menjalar, Senja langsung bangun dari tidurnya. keluar dan meminta pertolongan pada warga. tapi, warga hanya terdiam. takut akan kekuatan tukang pukul Dayat. Senja yang dalam kondisi hamil maju kehadapan Dayat, dia memukuli, mencakar Dayat. tapi apa daya, kekuatan wanita tidak sebanding dengan kekuatan pria.
"hai kalian para penduduk kampung. jika Thalib ingin istrinya kembali, katakan padanya aku tunggu dirumahku." teriak Dayat
Dayat pun menyuruh tukang pukulnya untuk mengikat dan membawanya ke rumahnya.

. . .

"bangsat kau Dayat!!!!" teriak Thalib ke angkasa.
"aku akan kesana, mengambil istriku lalu membunuh Dayat. aku ingin memasang tengkorak yang tidak punya Tuhan itu didepan kamarku."
"siapa yang mau membantu aku ?"
penduduk kampung yang berada di dalam rumahnya tidak ada yang keluar untuk menjawab tantangan Thalib. mereka terlalu takut terhadap tukang pukul Dayat. siapa yang berani melawan tukang pukul yang disewa Dayat, yang konon didatangkan dari negeri sebrang yang terkenal pendekar tangguhnya.

"baik Thalib. aku ikut denganmu, bersama 4 kawanku. kami sudah kesal dengan tingkah laku Dayat." Jamil sahabatnya datang bersamaan dengan 4 orang pemuda kampung.
"terima kasih kawan. tapi menghadapi mereka kita butuh rencana, mari kita berunding." seru Thalib.
mereka pun berunding di pendopo rumah Jamil.

. . .

"baik kita pergi ke rumah Dayat memutar lewat belakang, melewati sawah desa Maddis lalu turun ke sungai. aku yakin dayat telah menyiagakan tukang pukulnya. jadi kita harus hati - hati." rencana yang dipaparkan oleh Jamil
"baik ayo segera kita kesana. aku sudah tidak sabar ingin menyemelih leher orang Atheis itu." kata Thalib
Thalib menyiapkan celuritnya, warisan ayahnya yang kono telah merenggut nyawa banyak orang. mereka langsung berangkat tanpa persiapan yang memadai.
"istriku, demi anak kita. benih yang kita perbuat. dan demi tanah kelahiranku. aku akan membalaskan dendam ini. melanjutkan kisah ayahku yang abadi."

. . .

"kalian semua jangan keluar dulu sebelum aku memberi tanda. mengerti kalian." suruh Thalib
"jamil kau pergi kebelakang rumah Dayat, aku yakin istriku ada dibelakan sana. aku akan menarik perhatian mereka."
. . .

"hai Dayat, orang gila, tidak punya Tuhan. keluar kau. akan kusembelih lehermu, menggantung tengkorak busukmu didepan kamarku!" teriak Thalib lantang.
Dayat yang mendengar itu langsung keluar bersama 13 tukang pukulnya. giginya menggeretak kesal. tukang pukulnya langsung mengelilingi Thalib, mereka bersiap menghajarnya. sementara itu, Jamil masuk lewat pintu belakang. ternyata apa yang dikatakan Thalib benar. istrinya sedang terikat di kamar belakang Dayat. dengan sebilah pisau dia memutus tali tersebut, lalu mengajak Senja pergi dari rumah tersebut.

. . .

keadaan Thalib saat ini tidak menguntungkan, dia tidak bisa menyampaikan kode untuk kawan - kawannya yang bersembunyi. ke - 13 tukang pukul itu mengelilinginya, menutup ruang geraknya. sambil mengambil celurit dari pinganggnya dia berteriak.
"istriku, demi anak kita. benih yang kita perbuat. dan demi tanah kelahiranku. aku akan membalaskan dendam ini. melanjutkan kisah ayahku yang abadi."
tak ayal, perkelahian pun dimulai. Thalib yang sendirian tidak mampu menghadapi tukang pukul Dayat. perutnya robek karena sabetan celurit, darah mengucur deras. lehernya hampir putus, pandangannya semakin kabur. di detik - detik terakhir dia berusaha mengucapkan kembali kalimat penyemangatnya.
"istriku, demi anak kita. benih yang kita perbuat. dan demi tanah kelahiranku. aku akan membalaskan dendam ini. melanjutkan kisah ayahku yang abadi."
pandangannya semakin kabur dan nafasnya sudah habis. Thalib meninggal dan para kawannya yang bersembunyi lari tidak tahu arah. mereka berpikir jagoan mereka saja kalah, bagaimana dengan mereka. mereka kabur, rasa takut yang besar telah membunuh penyemangat mereka.
"istriku, demi anak kita. benih yang kita perbuat. dan demi tanah kelahiranku. aku akan membalaskan dendam ini. melanjutkan kisah ayahku yang abadi."
. . .

nenekku, Senja. menceritakan kisah memilukan tersebut kepadaku dan Vira. kami bertiga tidak bisa menahan air mata yang keluar tak berhenti. "berarti kakekku adalah Thalib?" batinku, dan ternyata Vira adalah keturunan dari Dayat. pembunuh kakekku, orang yang tidak mengakui adanya Tuhan. aku menjadi bingung.
"haruskah aku membatalkan pernikahanku atas nama keluarga, latar belakang agama ? aku tau sejak awal, bahwa aku dan Vira berbeda agama. tapi apakah aku harus membatalkan ini. menarik kembali ucapanku ? lalu bagaimana dengan cintaku ? haruskah ? astaghfirullah, ya Alah bantulah hambaMu ini."
*terinspirasi dari bab dendam di buku a cat in my eyes karya Fahd Djibran
*terinspirasi dari perbincangan dengan teman saat perjalanan pulang ke rumah di vespanya. terima kasih

Minggu, 05 September 2010

untittled

vira
aku minta maaf
jika aku datang padamu hanya dengan lembaran - lembaran palsu ini
maafkan aku

vira
jika kemarin aku pergi
aku menyesal
aku minta maaf

vira
semua cerita kita aku kenang melalui bait - bait surat ini

vira
jika surat ini hanya membuatmu sedih
aku minta maaf
memang
kepergian, lambaian tangan dan salam perpisahan
seperti tak punya perasaan
apalagi seperti yang kulakukan

vira
maafkan aku
sebab sejauh ini keberanianku
biarkan semua ini berjalan tanpa rekayasa

vira
aku hanya ingin bercerita
seperti biasa
saat kita menghabiskan waktu dengan syahdu

vira
aku hanya ingin bercerita
tetapi aku hanya bisa bercerita melalu kaca jendela kamarmu
sebab sebatas itu keberanianku

memang aku hanya pengecut
yang hanya bisa meninggalkanmu

vira
jika aku datang kembali kepadamu
aku berjanji untuk memenuhi janji waktu yang ku lewati bersamamu

vira
jika waktu tak cukup untuk memenuhi semua janjiku
maafkan aku
bukan maksudku meninggalkanmu begitu saja

memang
kepergian, lambaian tangan atau salam perpisahan
seperti tak punya perasaan
apalagi jika tidak memakai pesan

vira
jika aku datang kepadamu lagi
aku akan menjelma menjadi angin
menjauh darimu
karena aku tidak tega bertemu denganmu
karena hanya itu keberanianku

vira
aku ingin kau tahu perjalananku
tapi aku yakin kau pasti bosan dengan ceritaku

vira
jika kau tahu kepergianku yang menyisakan lubang pedih di perasaanmu
maafkanku
maafkan aku telah menyalakan lagi
cahaya masa lampau yang mungkin ingin kau buang
mengundang laron - laron zaman yang kau benci
maafkan aku

vira
jika suatu hari nanti aku datang
aku berjanji untuk menghapus semua kesalahanku
mengubah diriku menjadi orang lain
bersembunyi di balik pohon di depan kamarmu
melihatmu menanti di jendela kamarmu

vira maafkan aku
aku hanya bisa bersembunyi saat ini
aku tidak ingin membuka cahaya masa lampau yang telah kita lalui
mengundang laron - laron zaman

vira
seperti apa dirimu saat ini aku tidak tahu
sudah berubah atau tidak aku tidak tahu
asal kau tahu
aku berada di tempat yang sama seperti dirimu
tapi aku selalu bersembunyi

aku tidak ingin mengusik cahaya masa lalu yang telah lama redup
mengundang laron - laron musim hujan
yang menjadi saksi bisu cerita masa lalu kita

vira
aku menyesal dan minta maaf
sebab
kepergian,
lambaian tangan dan salam perpisahan
selalu seperti tak punya perasaan
apalagi jika kau melakukannya tanpa pesan

tapi waktu, semua akan berlalu
yang tersisa hanya kenangan




*terinsipirasi dari puisi untuk Azalea yang dibuat oleh tokoh "aku" dalam novel MPM karya Fahd Djibran