Minggu – minggu ini adalah hari terberatku. Sampai akhirnya aku memutuskan menulis surat ini untukmu, Vira. Sejak saat itu, saat aku memutuskan untuk menghilang darimu, ya, menghilang, kata itu lebih halus daripada yang dipakai anak muda zaman sekarang. Meski itu berat, aku harus melaluinya.
Vira, aku tidak tahu apa yang kau rasa sejak kepergianku saat itu. Maaf, bukan maksudku meninggalkan perih di hatimu. Tapi aku harus memutuskan vira, bukankah kau pernah bilang bahwa laki – laki harus berani memutuskan ? aku selalu mengingat setiap kata – katamu dalam benakku, vira.
Bukan maksud kata – kataku ingin mengakhiri pertemanan kita, tapi aku hanya ingin menghilang, bukankah setiap laki – laki memiliki haknya untuk sendiri.
Vira, jika kau membaca surat ini dan kau masih merasa pedih setelah aku tinggalkan sejak saat itu, maafkan aku. Maafkan sifat ke-aku-an ku. Alasan – alasan yang aku lontarkan saat itu, memang tidak memperlihatkan ke-jantan-anku tapi, aku bingung vira. Aku bukanlah seorang yang pintar merangkai kata.
Vira, perlu kau ketahui, aku suka semua sifat ke-engkau-an mu, aku sama sekali tidak mempersalahkannya. Tapi, aku hanya perlu waktu untuk berpikir, waktu untuk sendiri, waktu untuk lebih dalam untuk mencintai ke-engkau-an mu.
Vira, memang kata – kata perpisahanku saat itu memang terlalu memperlihatkan ke-aku-an ku, tapi pahamilah Vira. Dengan kata – kata tersebut aku berusaha jujur pada diri sendiri.
Karena mencintaimu adalah jujur pada diriku sendiri.
Vira, ingatkah engkau, saat kita bersama – sama berjalan di pinggir sawah ? saat itu kakimu sangat kotor, dan yang kuketahui kau sangat risih dengan lumpur. Tapi, saat itu kau tidak terlihat seperti engkau, dan meskipun begitu, aku tetap mencintaimu.
Karena mencintaimu adalah mencintai engkau tanpa alasan
Vira, ingatkah saat aku pertama kali mengungkapkan cintaku. Aku mengingatnya jelas, melalu jendela kamarku, aku menulis surat ini dan mengingatnya tanpa kekaburan sama sekali. Saat itu kau sedang makan bersama teman – temanmu, tentu suasana saat itu sedang ramai sekali, aku memperkuat azzamku untuk menyatakan cintaku.
“vira, maukah engkau menjadi pacarku ?”
Dengan sebuah mawar aku mengatakannya, dan kau tersipu malu. Seakan – akan menolakku, pipimu merah, dan teman – temanmu menyorakimu. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku saat itu. Mengapa aku terlihat seperti laki – laki “gila” saat itu, Vira.
Tapi hari itu sangat mengembirakan bagiku, kau mengambil mawarku. Yang mungkin memiliki arti kau menerema cintaku, iya hanya mengambil mawarku reaksimu saat itu. Dan aku mengambil kesimpulan bahwa kau menerimaku.
Vira, ingatkah saat awal – awal aku mendekatimu, aku sangat tidak tahu bagaimana sifatmu, aku hanya bisa menerka melalui angin yang seolah memberitahu sifat ke-engkau-an mu. Setiap kali aku meng-sms-mu seringkali kau tidak menganggapiku, walau aku tahu, bukan, hanya menerka bahwa kau mengharapkan aku meng-sms-mu tapi karena sifat ke-engkau-an mu kau enggan membalasnya.
Vira, ingat saat kita pertama kali kencan ?, walau terkesan rencanaku itu gagal, tapi kau tetap menyukainya kan ? waktu itu, aku hanya berpikir mencari gedung tua kosong, mengadakan makan malam di atas sana, ya, aku hanya berpikir seperti itu. Aku bertanya kesana kemari untuk mencari sebuah gedung tua itu, senang sekali, karena aku menemukannya. Aku berusaha menyiapkannnya dan langsung mengajakmu tepatnya janjian denganmu.
Aku ingat, cuaca saat itu sedang tidak bersahabat dengan kita, tapi kita nekat, tepatnya menerobos rintik hujan, tapi aku tidak akan melupakan momen – momen itu. Kita sampai di tempat tujuan, kita senang, karena hujan saat itu berhenti. Aku ingat aku menutup matamu, membawamu ketempat yang aku persiapkan, lalu aku membuka matamu dan aku ingat sekali ekspresimu, kau, terlihat seperti engkau.
Vira, tujuanku menulis ini bukan untuk membuatmu bertambah sedih dengan kembali menghidupkan ingatan – ingatan masa lalu tentang kita, tentang masa lalu kita, tentang kesenangan yang kita lalui bersama.
Aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku disini dalam keadaan yang baik – baik saja. Sekali lagi, aku minta maaf jika kepergianku saat ini membuatmu sedih. Aku hanya ingin memiliki waktu sendiri dan sedang berusaha jujur pada diriku sendiri. Karena mencintaimu adalah jujur pada diriku sendiri.
Mencintaimu adalah jujur pada diriku sendiri
bersamamu adalah saat - saat dimana aku menjadi diri sendiri, berusaha jujur tentang keadaan, perasaan, dan pikiranku tentang dirimu
Morning my dear
How is your life today?
I tried to sleep early cause i miss you and I
Cant wait to see your face
Cant wait to see your smile
I hate to be a boy who cant wait for too long
So sorry
That I cant always be with you
I can only wish god show me this feeling is true
Too many time
We've been spending together
Can it means that we have known each other
*
Keep on stick with me
Just hear my word and you will see
Reff:
Always care of you
Just that i wanna do
Im feeling like this just to you
And now i can see
That you hope we could be
High school never ending story
Morning dear – strip down the goody bag
Jakarta, 20 februari 2011